Natal, sejarah dan asal-usul serta pandangan menurut Alkitab

natal

Kata “ Natal “ berasal dari bahasa Latin yang berarti “ lahir “. Dalam kekristenan, Natal diyakini sebagai hari kelahiran Yesus. Hal ini dimulai pada awal abad ke 3, yaitu pada masa kaisar Konstantin. Ia mempercayai bahwa dewa matahari bangsa Roma adalah perwujudan dari “ Allah Mahatinggi “ [Summus Dues] “ yang tidak terlihat. Mereka diajarkan bahwa dewa ini adalah rekan para kaisar. Konstantin setia pada kepercayaan ini karena pada tahun 310, ia berkata bahwa ia melihat dewa matahari ini. Namun, pada tahun 312, ketika sedang bertempur melawan musuhnya, Konstantin bermimpi bahwa Kristus menampakkan diri kepadanya dan mmeberi tahu dia untuk menuliskan 2 huruf pertama dari nama Kristus ( X [chi] dan P [rho] di dalam bahasa Yunani ) pada perisai pasukannya. Dan pada hari berikutnya, ia berkata telah melihat sebuah salib dengan kata-kata “ di dalam tanda ini kamu akan menang. “ Sejak saat itu Konstantin mengakhiri penganiayaan pada umat Kristiani.

Mulai tahun 313, Kekaisaran Romawi menerima agama Kristen bahkan memberikan dukungan dana kepada gereja. Saat itu, posisis umat Kristiani berubah dari penganiayaan yang intensif menjadi sangat nyaman. Kaisar menjanjikan pakaian putih dan 20 keping emas kepada mereka yang baru dibaptis dari kelas miskin. Dalam setahun, di Roma ada 12000 laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, yang dibaptis. Namun, pada saat yang bersamaan, Konstantin masih menjabat sebagai kepala dan Imam Besar dari kepercayaannya yang menyembah dewa matahari. Ia baru dibaptis menjelang kematiannya.

Pada zaman Konstantin inilah, perayaan natal pada tanggal 25 Desember pertama kali dilakukan, tercatat di kalender Romawi kuno, yaitu pada tahun336 Masehi. Konstantin meninggal pada tahun 337 Masehi. Kemudian, pada tahun 354, Paus Liberius dari Roma meresmikannya.

Mengapa Tanggal 25 Desember ?

watchman nee kutipan

Saat itu, banyak orang Romawi yang menyembah dewa matahari. Karena tanggal 22 Desember adalah siang hari yang paling pendek dalam setahun, sesudah tanggal itu siang hari mulai panjang dan malam hari mulai pendek. Jadi saat itulah mereka merayakan kelahiran ulang matahari atau Winter Solstice ( titik balik matahari ), yang biasanya terjadi sekitar 25 Desember pada kalender “ The ancient Julian “

Orang Skandinavia pada periode waktu ini juga merayakan kelahiran ulang matahari yang mereka sebut dengan perayaan Yule. Orang-orang Persia merayakan kelahiran dewa mereka, Mithra, matahari yang taktertaklukkan pada periode waktu ini. Sebagian orang Romawi merayakan Saturnalia ( 14-24 Desember ) untuk menghormati saturn, dewa pertanian mereka, sebagai waktu pesta pora yang sangat bebas.

Ada juga orang-orang Romawi yang merayakan Brumalia ( 25 Desember ) sebagai saat ketika dewa kesuburan mereka, matahari, mulai bangkit kembali mengalahkan dunia dengan kekuatan dan tenaga yang diperbarui. Sebagian lagi dari orang Romawi merayakan Hari Raya permulaan Januari selama tiga hari yang dimulai 1 Januari. Pada saat itu rumah mereka dihiasi tumbuhan hijau dan lampu, mereka juga memberikan hadiah kepada anak-anak dan orang miskin untuk mendatangkan rezeki di tahun baru.

Kaisar Aurelian dari Roma bahkan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai pesat Sol Invictus yaitu kelahiran matahari yang tak terkalahkan ( natalis solis invicti ). Orang-orang Yunani Merayakan Bacchanalia pada periode waktu ini untuk menghormati bacchus [dionysus], dewa anggur mereka, dengan mabuk-mabukan dan tindakan amoral. Orang Mesir merayakan hari lahirnya Osiris, anak Isis, dewi mereka yang disebut ratu surga pada periode waktu ini. Orang-orang Sabea di daerah Arab merayakan dewa mereka, Meni, dewa bulan, pada 24 Desember. Orang-orang Babilonia merayakan kelahiran baal [belus], anak dewi mereka yang disebut ratu sorga pada periode waktu ini.

Fakta Natal

Jadi, Gereja Roma pada waktu itu memilih 25 Desember sebagai satu hari untuk perayaan kelahiran ( The Feast of Nativity ) guna memberikan kemudahan-kemudahan bagi orang-orang yang telah dibaptis tetapi tetap ingin memiliki perayaan-perayaan dalam ritual penyembahan berhala. Sebagai contoh, gereja menggantikan festival menghormati kelahiran Mithra, dewa terang, dengan festival menghormati kelahiran Yesus, yang adalah terang dunia.

Seorang penulis Roma Katolik, Mario Righetti, mengakui, “ Pemilihan tanggal 25 Desember adalah untuk mempermudah penerimaan kepercayaan dari rakyat yang menyembah berhala. Gereja Roma menemukan caranya yaitu menetapkan 25 Desember sebagai perayaan kelahiran Kristus untuk mengalihkan mereka dari perayaan penyembah berhala, di hari yang sama, yaitu perayaan untuk menghormati “ Matahari yang tak terkalahkan “ dari agama Mitras, sang penakluk kegelapan. “

Itulah sebabnya Ensiklopedi Britannica mengatakan bahwa natal adalah sebuah “ Perubahan bentuk dari perayaan titik balik matahari di musim dingin yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembah berhala. “ Inilah fakta dibalik pemilihan tanggal 25 Desember yang dianggap sebagai kelahiran Tuhan Yesus.

Beberapa Kejanggalan

Selain itu, ada beberapa kejanggalan dengan tanggal 25 Desember dan perayaan natal itu sendiri. Injil Lukas menggambarkan saat peristiwa itu terjadi.

“ Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. “ ( Lukas 2 : 8-9 )

Di Betlehem, gembala-gembala tidak mungkin menjaga ternak di padang pada bulan Desember karena sedang bersalju. Sejak zaman Alkitab sampai sekarang, gembala di Betlehem meninggalkan padang penggembalaan pada di musim dingin dengan berlindung pada gua-gua yang disebut Grotto. Jadi peristiwa malaikat menampakkan diri kepada para gembala di padang tidak mungkin terjadi pada tanggal 25 Desember.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan :

  • Jika natal adalah milik Kristus dan kita diperintahkan-Nya untuk dirayakan, pasti Dia memberikan tanggal lahir-Nya.
  • Jika Natal milik Kristus dan diperintahkan-Nya untuk dirayakan tentu murid-murid-Nya telah merayakannya ketika Yesus masih hidup di dunia.
  • Jika Natal adalah milik Kristus dan diperintahkan-Nya untuk dirayakan, tak mungkin para rasul melupakannya.
  • Jika Natal merupakan milik Kristus, bukan dari dunia, pasti dunia menolak dan membenci perayaan natal karena dunia membenci Yesus.

Pandangan dan Perintah Alkitab

Kelahiran Yesus memang membawakan sukacita kepada kita. Tetapi Ia tak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memperingati hari ulang tahun-Nya, apalagi untuk merayakannya. Jika Ia menginginkan hal itu, tentulah Ia memberikan tanggal lahir-Nya dan perintah yang jelas. Firman Tuhan ( Alkitab ) tidak mencatat tanggal Yesus dilahirkan di dunia. Tetapi yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari ulang tahun Yesus adalah tradisi dunia. Orang yang sesat, bukan orang yang tidak merayakan natal, melainkan mereka yang tidak mengetahui isi Alkitab, seperti yang dikatakan dalam

Matius 22 :29, “ Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun Kuasa Allah. “

Tradisi perayaan Natal bukanlah berasal dari Alkitab.

Alkitab tidak memberitahu kita untuk merayakan hari lahir Tuhan, tetapi memberitahu kita untuk mengingat Dia dengan jalan makan perjamuan Tuhan. “ Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata : ‘ Inilah tubuh-Ku,  yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! ‘ Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata : ‘ Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! ‘ Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang ‘” ( 1 Korintus 11 : 24-25 ).

Inilah yang Tuhan Yesus perintahkan untuk kita lakukan, yaitu memperingati kematian-Nya, bukan merayakan kelahiran-Nya dengan dekorasi yang indah dan gemerlap. Yesus ingin kita selalu ingat akan kematian-Nya, sebab jika Dia tidak mati dan bangkit dari antara orang mati, kita takkan dilahirkan kembali untuk mendapatkan hidup yang kekal. Kita bersukacita, karena Yesus telah lahir di dunia, namun, kita lebih bersukacita, karena Yesus telah mati dan bangkit dari antara orang mati. Inilah pandangan Alkitab dan perintah Alkitab.

Karena itu, kita tidak seharusnya berdebat mengenai natal, tetapi sebagai gantinya kita perlu menerima firman murni Alkitab dan perintah-Nya seperti yang pernah diucapkan oleh seorang hamba Tuhan yang bernama Watchman Nee, bahwa : “ alkitab adalah satu-satunya standar, kita tidak takut memberitakan firman murni yang tercantum dalam Alkitab, sekalipun orang menentangnya; tetapi jika bukan firman murni, kita tidak akan pernah dapat menyetujuinya meskipun semua orang menyetujuinya. “

Yerimia

Seorang muda yang mengasihi Tuhan Yesus.
Dia berharap semoga tulisannya bisa membantu saudara/saudari akan pengenalan dan pengalaman yang lebih maju dalam Kristus.