Sidang Pemecahan Roti [bagian 1] ( pelajaran hayat part 16 )

sidang pemecahan roti

“ Kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti “ ( Kis. 20:7 )

“ Kamu berkumpul . . . untuk makan perjamuan Tuhan “ ( 1 Kor. 11:20 )

“ Kamu . . . mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan . . .  “ ( 1 Kor. 10:21 )

Ketiga ayat di atas menunjukkan bahwa sidang pemecahan roti adalah sidang yang dalamnya kaum saleh berkumpul untuk makan perjamuan malam Tuhan dan menghadiri meja Tuhan. Sidang ini terdiri atas dua bagian, yang di depan untuk mengenang Tuhan, dan yang di belakang untuk menyembah Bapa.

Mengenang Tuhan – Dengan Tuhan sebagai Inti

“ Lalu Ia mengambil roti . . . memecah-mecahkannya dan mmberikannya kepada mereka, kata-Nya, ‘ Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. ‘ Demikian juga dilakukan-Nya dengan cawan sesudah makan . . . “ ( Lukas 22:19-20 )

Sidang pemecahan roti bukan untuk yang lain, tetapi untuk mengenang Tuhan. Peringatan terhadap Tuhan tersebut merupakan intinya, agar Tuhan mendapatkan kenikmatan. Segala sesuatu dalam sidang ini, baik menyanyikan kidung, berdoa, membaca Alkitab, atau perkataan inspirasi hari berinti pada Tuhan, membicarakan persona dan karya-Nya, kasih dan kebajikan-Nya, kehidupan dan penderitaan-Nya di bumi, atau kehormatan dan kemuliaan-Nya di surga, agar orang lain merenungkan atau nampak perkara-perkara tersebut untuk mengenang Tuhan. Dalam sidang semacam ini, kita wajib memikirkan Tuhan dalam hati serta memandang Tuhan dalam roh, sehingga di dalam kita timbul inspirasi roh terhadap Tuhan, dan kita nyatakan inspirasi yang kita terima itu melalui kidung, doa, pembacaan Alkitab, atau kata-kata, agar perasaan seluruh sidang terarah kepada Tuhan dan semua orang mengenang Tuhan.

Sidang Pemecahan Roti : Makan Perjamuan Malam Tuhan

1 kor 11 26

Ketiga ayat yang ada di awal artikel ini menunjukkan, bahwa pemecahan roti adalah makan perjamuan malam Tuhan dan juga menghadiri meja Tuhan. Makan perjamuan malam Tuhan ditujukan kepada mengenang Tuhan; menghadiri meja Tuhan ditujukan kepada bersama bersekutu terhadap segala yang Tuhan rampungkan bagi kita. Dalam aspek makan perjamuan malam Tuhan, terutama kita harus melakukan tiga hal berikut ini :

Mengenang Tuhan

“ Tuhan Yesus mengambil roti . . . memecah-mecahkannya dan berkata, ‘ Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku “ ( 1 kor. 11:23-24 )

Sesuai dengan yang diselenggarakan Tuhan, setiap kali kita memecahkan roti, tidak hanya tersedia seketul roti untuk kita pecahkan dan makan, tetapi juga ada satu cawan untuk kita terima dan minum. Dengan makan roti Tuhan dan minum cawan Tuhan, kita makan perjamuan malam Tuhan dalam mengenang Tuhan. Roti dan cawan merupakan lambang. Menurut firman Tuhan, roti mengacu kepada tubuh-Nya yang diserahkan bagi kita dan cawan mengacu kepada darah-Nya yang tertumpah bagi kita. Tubuh-Nya telah diserahkan bagi kita di kayu salib, darah-Nya juga tertumpah bagi kita di kayu salib. Dia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk memberikan hayat ke dalam kita, supaya kita berbagian atas diri-Nya. Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita unutk menebus kita, supaya dosa-dosa kita mendapatkan pengampunan.

Ketika kita melihat atau menerima roti yang kita pecah-pecahkan, kita wajib merenungkan bagaimana Tuhan telah menjadi daging bagi kita, bagaimana Dia telah mati dalam daging bagi kita, dan bagaimana tubuh-Nya terkoyak bagi kita serta diberikan kepada kita, sehingga kita mendapatkan hayat-Nya. Dalam Alkitab, roti berkenaan dengan hayat. Tuhan berfirman, bahwa Dia adalah roti hayat yang memberikan hayat kepada dunia ( Yoh. 6:33-35 ). Setiap kali menyebut roti, kita wajib memikirkan hayat. Tubuh Tuhan terkoyak untuk diberikan kepada kita sebagai roti, berarti Dia menyerahkan tubuh-Nya demi kita, supaya kita bisa memiliki hayat-Nya. Kita berbagian dalam hayat-Nya ketika menerima tubuh-Nya yang terkoyak itu. Inilah yang dinyatakan oleh pemecahan roti dan oleh roti yang setiap kali kita pecah-pecahkan.

“ Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, ‘ Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku, perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku ‘“ ( 1 Kor. 11:25 )

Dalam sidang pemecahan roti, kita wajib merenungkan Tuhan dan apa yang telah dikerjakan-Nya bagi kita, bukan hanya ketika melihat atau menerima roti yang kita pecah-pecahkan, tetapi juga ketika melihat atau menerima cawan yang kita minum. Cawan ini menyatakan perjanjian baru yang Thuan berlakukan bagi kita dengan menumpahkan darah-Nya.

Setiap kali melihat atau menerima cawan yang kita minum, kita harus membayangkan betapa Tuhan telah mengambil bagian dalam daging dan darah demi kita ( Ibrani 2:14 ), betapa Dia tidak hanya menyerahkan tubuh-Nya bagi kita agar kita beroleh hayat-Nya, tetapi juga menumpahkan darah-Nya bagi kita agar kita beroleh berkat yang tertinggi, yaitu dilepaskan dari dosa serta mendapatkan Allah beserta segala milik Allah.

Melalui benda-benda ini, kita merenungkan betapa Tuhan menanggung dosa-dosa kita, dijadikan dosa karena kita, dihukum dan dikutuk demi kita, menumpahkan darah-Nya yang menjadi cawan berkat kita, menjadi bagian berkat kekal kita. Kita juga harus merenungkan betapa kita ditebus, diampuni, dibenarkan, didamaikan dengan Allah, dan diperkenan Allah karena darah Tuhan; betapa darah ini membersihkan kita dari dosa-dosa, membasuh hati nurani kita sehingga kita bisa menghampiri Allah dengan berani; betapa darah ini menangkis serangan roh-roh jahat bagi kita, sehingga kita bisa menang atas Iblis yang selalu menuduh kita.

Dalam Alkitab, roti mengacu kepada hayat dan cawan mengacu kepada “ bagian “, seperti “ TUHAN adalah bagian . . . pialaku “ ( Mazmur 16:5 ). Kita penuh dosa dan kejahatan, dan bagian yang seharusnya kita terima dari Allah ialah cawan murka, yaiu masuk ke telaga api, menderita siksaan binasa kekal ( Wahyu 14:10, 21:8 ). Namun cawan murka bagian kita itu telah Allah berikan kepada Tuhan Yesus untuk mati di kayu salib ( Yoh. 18:11 ).

Dia telah menerima hukuman keadilan Allah, bagi kita, mengecap sepenuhnya siksa kebinasaan di telaga api; Dia telah mengalirkan darah-Nya untuk menebus kita dari dosa-dosa, menetapkan perjanjian baru bagi kita, memberi kita piala keselamatan ( Mazmur 116:13 ), dan menjadi cawan berkat kita ( Mazmur 23:5 ). Dalam cawan keselamatan yang enuh berkat ini, Allah sendiri berikut segala miliknya telah menjadi bagian kita, menjadi bagian berkat kekal kita, menjadi bagian cawan kita.

Menikmati Tuhan

“ Yesus mengambil roti . . . memecah-mecahkannya, lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, ‘ Ambillah, makanlah. ‘” ( Matius 26:26 )

“ Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menajdi peringatan akan Aku “ ( Lukas 22:19 )

“ Lalu Ia mengambil cawan . . . memberikannya kepada mereka dan berkata, “ Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian “ ( Matius 26:27-28 )

“ . . . yang ditumpahkan bagi kamu “ ( Lukas 22:20 )

“ Perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku “ ( 1 Kor. 11:24-25 )

Meskipun inti pemecahan roti adalah mengenang Tuhan, namun kenangan ini tidak ditujukan hanya kepada Tuhan dan segala karya-Nya bagi kita, tetapi juga ( lebih-lebih ) menikmati Tuhan dan segala yang dirampungkan-Nya bagi kita. Tuhan mengatakan, bahwa makan roti-Nya dan minum cawan-Nya adalah memperingati Tuhan.

Roti dan cawan-Nya menyatakan tubuh dan darah-Nya. Jadi, makan roti dan minum cawan-Nya berarti makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Tubuh dan darah tuhan adalah diri-Nya yang diserahkannya bagi kita, juga sarana untuk merampungkan segalanya bagi kita. Lagipula, makan dan minum, bukan hanya menerima tetapi juga menikmati. Saat kita makan tubuh Tuhan dan minum darah-Nya, ktia tidak hanya menerima, namun juga menikmati Tuhan sendiri berikut segala yang dirampungkan-Nya dengan menyerahkan tubuh-Nya dan menumpahkan darah-Nya bagi kita. Menerima dan menikmati Tuhan sedemikian adalah mengenang Dia. Saat kita makan, minum, menikmati Tuhan sedemikian barualh benar-benar mengenang Dia. Inilah makna yang dalam dari makan perjamuan malam Tuhan.

Makan, minum, dan menikmati Tuhan sedemikian ini dalam perjamuan malam-Nya, juga merupakan deklarasi dan kesaksian kita. Kita mendeklarasikan bahwa kita bersatu dan berbaur dengan Tuhan, sebagaimana roti berbaur dengan kita setelah kita terima ke dalam tubuh kita. Kita bersaksi, bahwa kita hidup dengan makan, minum, dan menikmati Tuhan, mengambil-Nya sebagai hayat kita setiap hari. Saat kita memecahkan roti untuk makan dan minum Tuhan, dengan menyerahkan tubuh-Nya dan menumpahkan darah-Nya, telah masuk ke dalam kita untuk bersatu dengan ktia. Kita pun bersaksi, bahwa dengan menerima tubuh yang Tuhan serahkan bagi kita dan darah yang ditumpahkannya bagi kita, kita telah berbagian di dalam-Nya dan segala yang dirampungkan-Nya bagi kita, kita telah bersatu dengan-Nya, dan kita hidup dengan-Nya sebagai hayat dan suplai hayat kita. Inilah deklarasi dan kesaksian kita ketika kita memecahkan roti.

Memamerkan Kematian Tuhan

“ Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang “ ( 1 Korintus 11:26 )

Istilah “ memberitakan “ dalam ayat ini berarti menunjukkan, memamerkan. Setiap kali ktia makan roti Tuhan dan minum cawan Tuhan, untuk mengenang Tuhan, bersamaan dengan itu kita memamerkan kematian-Nya. Kita mengenang Tuhan, bukan mengenang kematian Tuhan. Namun ketika kita mengenang Tuhan, kita memamerkan kematian-Nya untuk dilihat oleh kita sendiri, para malaikat, dan segala sesuatu. Ketika mengenang Tuhan, roti dan cawan terbentang terpisah di atas meja. Roti mengacu kepada tubuh Tuhan dan cawan mengacu kepada darah-Nya. Terpisahnya tubuh dari darah menyatakan kematian, demikianlah kematian Tuhan dipamerkan. Demikianlah kita memamerkan kematian Tuhan ketika kita memecahkan roti mengenang-Nya.

Kutipan Alkitab di sini mengatakan, bahwa kita mengenang Tuhan dan memamerkan kematian-Nya sampai Ia datang. Ini menyiratkan, ketika kita memecahkan roti untuk mengenang Tuhan dan memamerkan kematian-Nya, saat itu pula kita menanti kedatangan-Nya. Ini menunjukkan, bahwa kita wajib memamerkan kematian Tuhan dan memecahkan roti mengenang-Nya di dalam roh dan suasana yang menantikan kedatangan Dia. Bersambung ke bagian 2 . . .

Yerimia

Seorang muda yang mengasihi Tuhan Yesus.
Dia berharap semoga tulisannya bisa membantu saudara/saudari akan pengenalan dan pengalaman yang lebih maju dalam Kristus.