Mengenal Salib Kristus ( Pelajaran Hayat, part 11 )

mengenal salib

Salib Kristus merampungkan penebusan kekal Allah bagi kita sesuai dengan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah, yang menjadi dasar keselamatan kekal kita. Karena itu, kita harus mengenal salib setuntas mungkin.

Mengenal Salib : dinubuatkan Allah

“ Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengna jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis : Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib! “ ( Gal. 3:13 )

Kayu di salib di sini adalah salib yang terbuat dari kayu. Dalam Perjanjian Lama, Ulangan 21:23, Allah telah menubuatkan dalam hukum Taurat bahwa Kristus akan digantung di atas kayu palang, yakni salib.

Salib adalah Hukuman mati dari Kekaisaran Roma

“ Lalu berteriaklah mereka : Enyahkaan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia! Kata Pilatus [Gubernur Roma] kepada mereka : Haruskah aku menyalibkan rajamu? Jawab imam-imam kepala : Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar [Kaisar Roma] “ ( Yoh. 19:15 )

Bentuk hukumanmati orang Yahudi ialah dirajam dengan batu ( Ul. 22:24 ). Kira-kira enam puluh tahun sebelum Tuhan dilahirkan, bangsa Yahudi dijajah oleh Roma. Sebelum Tuhan dijatuhi hukuman mati dengan kayu salib oleh pemerintahan Roma, kekaisaran Roma sudah memberlakukan hukuman salib terhadap orang yang dinilai paling jahat. Demikianlah ketika orang Yahudi mencari akal membunuh Tuhan, mereka menyalibkan Dia dengna meminjam tangan pemerintahan Roma. Maka tergenaplah nubuat Allah dalam Ulangan 21:23, mengenai bagaimana Tuhan mati. Terjadinya peristiwa ini tentu tidak lepas dari kedaulatan Allah.

Waktu Penyaliban Kristus

“ Jam Sembilan pagi ketika Ia disalibkan “ ( Markus 15 : 25 )

Kristus disalibkan pada pukul sembilan pagi.

“ Mulai jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga “ ( Mat. 27 : 45 )

Kristus digantung di kayu salib sampai pukul tiga siang, selama enam jam. Tiga jam pertama Allah belum menghukum-Nya pada posisi mewakili orang dosa, itu baru merupakan aniaya dari pihak manusia. Selama tiga jam ini Ia menjalani mati martir, bukan demi penebusan. Kemudian siang harinya, bumi menjadi gelap. Dan sejak itu hingga pukul tiga siang, bukan lagi manusia yang menganiaya-Nya, tetapi Allah yang menghukum-Nya pada kedudukan mewakili orang dosa. Selama tiga jam tersebut Ia menderita sengsara demi penebusan, bukan mati martir.gal 6 14

Penggenapan Salib

“ Ia sendiri telah memikul dosa-dosa [dalam bahasa aslinya beerbentuk jamak, mengacu kepada kelakuan dosa lahiriah manusia] kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran “ ( 1 Ptr. 2: 24 )

Hal pertama yang dirampungkan Kristus di kayu salib ialah menanggung segala kelakuan dosa kita, yakni dosa-dosa yang kita lakukan, agar kita diselamatkan, berpindah dari dalam maut ke dalam hidup.

“ Akan tetapi, sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya . . . untuk menghapuskan dosa [dalam bahasa aslinya berbentuk tunggal, mengacu kepada sifat dosa di dalam manusia] dengna kurban diri-Nya “ ( Ibr. 9 : 26 )

Pada saat yang sama, Kristus di kayu salib menyingkirkan sifat dosa dalam kita, yaitu dosa yang diwariskan sejak lahir, agar kita diselamatkan dari sifat dosa yang ada di dalam kita.

“ Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Sebab . . . Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib! “ ( Gal. 3 : 13 )

Kristus menanggung dosa-dosa lahiriah kita, juga menyingkirkan sifat dosa di dalam kita di atas salib. Ia menerima kutuk yang harus dipikul berdasarkan hukum Taurat Allah atas kejatuhan dan dosa kita.

“ Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa “ ( Roma 6 : 6 )

Kristus di kayu salib bukan hanya membereskan dua aspek dosa kita, juga menyalibkan manusia lama kita, agar tubuh dosa kita kehilangan fungsinya, sehingga kita tidak perlu lagi diperbudak dosa.

“ Aku telah disalibkan dengan Kristus “ ( Gal. 2 : 19b )

Kata “ aku ” di sini adalah manusia lama kita. Berhubung manusia lama kita turut disalibkan dengan Kristus, maka “ Aku “ kita pun dengna sendirinya ikut disalibkan bersama Dia.

“ Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya “ ( Gal. 5:24 )

Kristus telah menyalibkan manusia lama kita, juga telah menyalibkan daging kita dengna segala hawa nafsu dan keinginannya. Di sini ditegaskan bahwa kita yang milik Kristus, telah menyalibkan dagin dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Hal ini dapat terlaksana berdasarkan fakta bahwa Tuhan telah menyalibkan daging kita di kayu salib.

“  . . . dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut . . . membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut “ ( Ibr. 2 : 14-15 )

Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut, bahkan telah membebaskan kita dari perhambaan maut.

“ Dan sama seperti Musa meninggikan ular [di atas kayu] di padang gurun, demikian Anak Manusia juga harus ditinggikan [di kayu salib], supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal “ ( Yoh. 3 : 14-15 )

Karena Kristus telah menghancurkan Iblis yang berkuasa atas maut, sudah tentu Ia pun telah menghukum dan menanggulangi ular tua yang pernah meracuni umat manusia, sehingga mereka yang percaya kepada Kristus memiliki hayat kekal Allah serta berpindah dari dalam maut ke dalam hidup. Ini dilukiskan oleh peninggian ular tembaga di padang gurun oleh Musa, sehingga umat Israel dipindahkan dari dalam maut ke dalam hidup.

“ Sebab oleh-Nya [Kristus] dunia telah disalibkan bagiku “ ( Gal. 6 : 14 Tl. )

Di atas salib, Kristus menghancurkan Satan, yaitu Iblis, dan pada saat yang sama, Ia telah menyalibkan dunia yang diorganisir oleh Satan dan tergantung pada Satan, sehingga kehilangan daya penjajahan terhadap mereka yang percaya Kristus.

“ Karena Dialah . . . yang telah mempersatukan kedua pihak [Yahudi dan kafir] merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurat dengna segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya “ ( Ef. 2 : 14-15 )

Di atas salib, Kristus telah menyingkirkan hukum Taurat Perjanjian Lama dengan perintah-perintah di dalam ketentuannya yang memisahkan orang Yahudi dengna orang kafir, dengan demikian menyatukan dan membuat keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, yakni gereja.

“ Jika biji gandum [melambangkan Kristus] tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah [melambangkan anggota-anggota Tubuh Kristus] “ ( Yoh. 12 : 24 )

Kristus di salib bukan hanya membereskan semua perkara negatif yang disebut di depan bagi Allah dan kita, tetapi juga melalui kematian-Nya di salib, melepaskan hayat ilahi-Nya ke dalam kita sehingga kita menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya guna membentuk Tubuh-Nya.

Bermegah dalam Salib

“ Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain di salam salib Tuhan kita Yesus Kristus “ ( Gal. 6 : 14 )

Mereka yang menggebu-gebu dengan agama Yahudi memaksa orang untuk disunat dengan maksud ingin bermegah dalam daging orang lain ( Gal. 6 : 12-13 ). Namun, rasul Paulus yang telah didapatkan Kristus, tidak bermegah atas apa pun kecuali salib Kristus. Inilah pentingnya kita untuk mengenal salib Kristus.

Yerimia

Seorang muda yang mengasihi Tuhan Yesus.
Dia berharap semoga tulisannya bisa membantu saudara/saudari akan pengenalan dan pengalaman yang lebih maju dalam Kristus.